Bangkep, BanggaiKep.go.id – Puluhan siswa di Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Kamis, (20/8/2026).

Berdasarkan laporan sementara pada Kamis sore, terdapat sedikitnya 51 orang yang mengalami kondisi kesehatan dan membutuhkan penanganan.

Korban terbanyak berasal dari SD Negeri Mata, yakni sebanyak 47 siswa. Selain itu, satu siswa SD Negeri Kanali, satu siswa SD Muhammadiyah Peling, seorang ibu menyusui, serta seorang balita berusia lebih dari tiga tahun turut dilaporkan mengalami kondisi serupa.

Dalam laporan tersebut disebutkan, tiga orang sempat mendapatkan bantuan oksigen. Dua di antaranya telah kembali dalam kondisi normal, sementara satu orang, yakni seorang ibu, masih menggunakan oksigen. Korban tersebut disebut tidak menjalani infus.

Satu korban lainnya telah dirujuk ke RSUD Trikora Salakan untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Menerima laporan kejadian tersebut, jajaran Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan langsung bergerak menuju lokasi. Bupati Banggai Kepulauan Rusli Moidady, Wakil Bupati Serfi Kambey, Ketua DPRD Arkam Supu, Sekretaris Daerah Moh. Aris Susanto, serta Asisten III Tommy Boy Luasusun dilaporkan turun langsung untuk memantau kondisi para korban dan penanganan di lapangan.

Langkah cepat tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh korban mendapatkan pertolongan medis serta untuk mengetahui secara pasti penyebab munculnya dugaan keracunan setelah konsumsi makanan MBG.

Pemerintah daerah juga terus melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan unsur terkait untuk memantau perkembangan kondisi para siswa maupun warga yang terdampak.

Jumlah korban dalam laporan awal ini masih bersifat sementara. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut terhadap seluruh penerima MBG yang diduga mengalami gangguan kesehatan.

Penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat disimpulkan dan masih menunggu hasil pemeriksaan serta penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi para korban. (Roy-KOMINFO)

Salakan, BanggaiKep.go.id— Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan bersama Yayasan Paisu Mas Lestari membahas rancangan pengelolaan dive center sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan wisata bahari di daerah tersebut. Pembahasan berlangsung di ruang rapat Wakil Bupati Banggai Kepulauan, Kamis, (20/8/2026).

Kegiatan dipimpin Wakil Bupati Banggai Kepulauan Serfi Kambey dan turut dihadiri Komisi III DPRD Kabupaten Banggai Kepulauan, Dinas Pariwisata, perangkat daerah terkait, serta jajaran Yayasan Paisu Mas Lestari.

Dalam arahannya, Serfi mengatakan Banggai Kepulauan memiliki kekayaan alam, terutama potensi wisata bahari, yang menjadi aset penting bagi pembangunan daerah. Laut, terumbu karang, pesisir, dan keanekaragaman hayati, kata dia, harus dikelola secara bijaksana agar memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Keberadaan dive center merupakan sebuah peluang strategis untuk mendukung pengembangan wisata selam dan wisata bahari di daerah kita,” kata Serfi.

Namun, menurut dia, pengelolaan dive center tidak boleh semata-mata berorientasi pada aspek ekonomi dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Faktor kelestarian lingkungan, keselamatan wisatawan, peningkatan kapasitas masyarakat, dan manfaat ekonomi bagi warga lokal harus menjadi bagian penting dalam rancangan pengelolaan.

Serfi meminta seluruh perangkat daerah terkait mengkaji secara menyeluruh berbagai aspek pengelolaan dive center. Kajian tersebut mencakup kelembagaan, pemanfaatan fasilitas, pembagian tugas dan tanggung jawab, pembiayaan, pemeliharaan, aspek lingkungan, hingga mekanisme evaluasi.

Ia berharap pembahasan bersama Yayasan Paisu Mas Lestari dapat menghasilkan pola pengelolaan yang jelas, transparan, profesional, dan berkelanjutan.

“Kita harus memastikan pengelolaannya tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, keselamatan wisatawan, peningkatan kapasitas masyarakat, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujarnya.

Serfi juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda Banggai Kepulauan. Menurutnya, keberadaan dive center harus membuka ruang bagi anak-anak muda untuk memperoleh keterampilan dan kesempatan kerja di sektor wisata selam.

Mereka, kata Serfi, dapat dikembangkan menjadi tenaga profesional seperti penyelam, pemandu wisata, instruktur, maupun tenaga pendukung lainnya.

Dengan demikian, dive center tidak hanya dipandang sebagai fasilitas pariwisata, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan ekonomi daerah.

“Kita ingin alam memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi manfaat tersebut harus diperoleh dengan tetap menjaga kelestarian alam,” kata Serfi.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Paisu Mas Lestari atas perhatian dan kontribusinya dalam mendukung pengembangan potensi wisata bahari di Banggai Kepulauan.

Serfi berharap pembahasan berlangsung terbuka dan konstruktif sehingga pemerintah daerah bersama yayasan serta para pemangku kepentingan dapat menemukan kesepakatan terbaik dalam pengelolaan dive center.

“Kiranya Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah dan upaya kita dalam membangun Kabupaten Banggai Kepulauan yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pembahasan rancangan pengelolaan dive center antara Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan dan Yayasan Paisu Mas Lestari kemudian secara resmi dinyatakan dimulai oleh Wakil Bupati Serfi Kambey. (Roy-KOMINFO)

Salakan, BanggaiKep.go.id — Bupati Banggai Kepulauan Rusli Moidady melepas secara resmi kontingen Gala Siswa Indonesia (GSI) Kabupaten Banggai Kepulauan yang akan berlaga pada kompetisi tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis, (20/8/2026).

Dalam sambutannya, Rusli menyampaikan apresiasi kepada para siswa yang telah terpilih mewakili Banggai Kepulauan setelah melalui proses pembinaan dan seleksi. Menurut dia, keikutsertaan dalam GSI bukan semata-mata mengejar kemenangan, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda.

“Melalui olahraga, kita belajar tentang disiplin, kerja keras, sportivitas, kerja sama, tanggung jawab, serta menghargai orang lain,” kata Rusli.

Ia meminta para atlet muda Banggai Kepulauan tampil penuh percaya diri ketika menghadapi peserta dari daerah lain. Rusli menegaskan, status Banggai Kepulauan sebagai daerah kepulauan bukan alasan bagi para siswa untuk merasa rendah diri.

“Jangan pernah merasa rendah diri karena kalian berasal dari daerah kepulauan. Tunjukkan bahwa anak-anak Banggai Kepulauan memiliki kemampuan, mental juara, dan semangat untuk berprestasi,” ujarnya.

Rusli juga berpesan agar seluruh anggota kontingen menjaga nama baik daerah selama mengikuti kompetisi di tingkat provinsi. Sikap, sopan santun, kekompakan, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan, kata dia, harus menjadi perhatian seluruh kontingen.

“Bertanding lah dengan penuh semangat, junjung tinggi sportivitas, patuhi aturan pertandingan, dan jaga nama baik daerah kita,” katanya.

Selain kepada para siswa, apresiasi juga disampaikan kepada pelatih, pembina, pendamping, dan official yang telah mempersiapkan kontingen.

Rusli berharap proses pembinaan olahraga bagi pelajar terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga potensi generasi muda Banggai Kepulauan dapat berkembang.

Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, kata Rusli, berkomitmen mendukung pengembangan potensi generasi muda, tidak hanya dalam bidang olahraga, tetapi juga pendidikan, seni, dan bidang lainnya.

“Prestasi anak-anak kita hari ini harus menjadi motivasi untuk membangun sistem pembinaan yang semakin baik ke depan,” ujarnya.

Kepada kontingen yang akan berangkat, Rusli meminta para siswa menjaga kesehatan, kekompakan, serta mengikuti arahan pelatih. Ia juga meminta mereka tidak gentar menghadapi lawan.

“Percayalah pada kemampuan diri sendiri, hasil latihan, serta doa dan dukungan masyarakat Banggai Kepulauan,” kata Rusli.

Di akhir sambutannya, Rusli secara resmi melepas kontingen GSI Kabupaten Banggai Kepulauan untuk mengikuti kompetisi tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.

“Selamat berjuang, anak-anakku. Tunjukkan semangat, tunjukkan sportivitas, tunjukkan prestasi. Banggai Kepulauan bisa. Harumkan nama Banggai Kepulauan,” ujar Rusli.

Ia berharap seluruh rangkaian kompetisi berjalan lancar dan kontingen GSI Banggai Kepulauan mampu meraih hasil terbaik serta membawa pulang prestasi bagi daerah.

Turut hadir Wakil Bupati, Plt. Asisten II, Kadis Dikbud, Kabid Dikdas serta para peserta Kontingen. (Roy-KOMINFO)

Salakan, BanggaiKep.go.id — Bupati Banggai Kepulauan Rusli Moidady, S.T., M.T., AIFO, membuka secara resmi Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Kekeringan/Krisis Air Bersih, Kamis, (20/8/2026).

Rapat koordinasi yang digelar di ruang rapat kantor Bupati tersebut dihadiri Ketua DPRD Banggai Kepulauan, Sekretaris Daerah, Asisten Setda, unsur Forkopimda, Kepala Pelaksana BPBD, para kepala perangkat daerah terkait, Ketua PMI, Direktur PDAM Banggai Kepulauan, Camat Bulagi Selatan, Camat Bulagi Utara serta pimpinan SPBU Mutiara Salakan dan SPBU Bulagi.

Dalam sambutannya, Rusli menegaskan penanganan karhutla dan kekeringan tidak boleh menunggu sampai bencana membesar. Menurut dia, pemerintah daerah harus memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan sejak ancaman mulai terlihat.

“Karhutla dan kekeringan merupakan kondisi yang harus kita antisipasi bersama. Kita tidak boleh menunggu sampai kebakaran meluas atau masyarakat benar-benar mengalami kesulitan mendapatkan air bersih baru kemudian bergerak,” kata Rusli.

Ia mengatakan karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pertanian, dan kehidupan sosial. Sementara kekeringan dapat menurunkan ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, kesehatan, pertanian, dan kebutuhan dasar lainnya.

Rusli meminta BPBD bersama perangkat daerah terkait segera memetakan wilayah yang berpotensi mengalami karhutla dan kekeringan. Pemetaan tersebut harus dilengkapi data wilayah rawan, kondisi sumber air, jumlah masyarakat yang berpotensi terdampak, serta kebutuhan sarana dan prasarana.

Para camat hingga pemerintah desa dan kelurahan juga diminta memperkuat pemantauan di wilayah masing-masing. Jika sumber air mulai mengering atau masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, laporan harus segera disampaikan agar pemerintah dapat memberikan respons sebelum kondisi memburuk.

“Begitu pula apabila ditemukan titik api atau indikasi kebakaran lahan, harus segera ditindaklanjuti. Jangan sampai api yang awalnya kecil berkembang menjadi kebakaran yang sulit kita kendalikan,” ujarnya.

Menurut Rusli, penanganan karhutla dan krisis air bersih membutuhkan sinergi lintas sektor. Pemerintah daerah, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha, relawan hingga masyarakat harus memiliki pola kerja yang terkoordinasi.

“Tidak boleh ada ego sektoral. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, seluruh sumber daya yang tersedia harus dapat dikerahkan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi,” kata dia.

Selain kesiapsiagaan, pemerintah daerah diminta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, segera melaporkan titik kebakaran, serta menggunakan air secara hemat dan bijaksana.

Rusli menegaskan hasil rapat koordinasi tidak boleh berhenti pada pembahasan dan laporan. Ia meminta adanya langkah konkret, pembagian tugas yang jelas, serta mekanisme respons yang cepat.

“Pastikan peralatan pemadaman siap digunakan. Pastikan sarana distribusi air bersih tersedia dan dapat digerakkan apabila diperlukan. Pastikan komunikasi antara desa, kecamatan, BPBD, dan perangkat daerah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kondisi geografis Banggai Kepulauan sebagai daerah kepulauan dengan karakteristik dan akses wilayah yang berbeda-beda. Karena itu, strategi penanganan karhutla dan kekeringan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

“Mari kita bekerja berdasarkan data, bergerak lebih cepat, dan mengutamakan keselamatan serta kebutuhan masyarakat,” kata Rusli.

Selanjutnya Kepala Pelaksana BPBD Banggai Kepulauan Ir. Asrin, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan kekeringan dari empat desa di wilayah Kecamatan Bulagi, Bulagi Selatan, dan Bulagi Utara.

Menurut Asrin, tim BPBD melalui bidang terkait telah melakukan asesmen langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi masyarakat dan kebutuhan air bersih akibat kekeringan.

“Untuk penanganan kekeringan, kami sudah menerima surat terkait kondisi di empat desa. Tim kami juga sudah melakukan asesmen di lapangan. Hasil asesmen nantinya akan dipaparkan secara detail oleh bidang terkait,” kata Asrin.

Asrin menjelaskan penanggulangan bencana memiliki sejumlah tahapan, mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga transisi menuju pemulihan. Status dan langkah penanganan harus melihat perkembangan ancaman serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Ia menyebut tahap siaga darurat dapat dilakukan ketika potensi ancaman mulai mengarah pada terjadinya bencana, yang ditandai meningkatnya ancaman berdasarkan sistem peringatan dini dan perkiraan dampaknya.

“Dengan situasi yang sekarang, kita mungkin sudah harus siaga bencana,” ujarnya.

Tahap berikutnya adalah tanggap darurat ketika ancaman bencana telah terjadi dan mengganggu kehidupan masyarakat. Setelah ancaman menurun atau berakhir, pemerintah dapat memasuki tahap transisi darurat menuju pemulihan ketika dampak terhadap kehidupan masyarakat masih berlangsung.

Asrin mengatakan penanganan darurat tidak hanya berorientasi pada korban, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Pemerintah perlu memulihkan pelayanan dasar, memperbaiki infrastruktur yang rusak, menggerakkan kembali aktivitas ekonomi, serta memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.

“Yang pertama kita harus memastikan keselamatan sebanyak mungkin korban dan menjaga mereka dalam kondisi sehat. Selanjutnya menyediakan kembali kecukupan diri dan pelayanan dasar, khususnya bagi kelompok yang paling rentan,” katanya.

Ia menambahkan, penanganan bencana perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat secara terukur, termasuk dampak yang berbeda terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak.

Asrin juga menjelaskan bahwa secara umum bencana dapat dikategorikan menjadi bencana geologi dan hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi antara lain banjir, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, tanah longsor, kekeringan, gelombang pasang, dan abrasi.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, hingga 7 Agustus 2026 tercatat sebanyak 1.432 kejadian bencana secara nasional dari berbagai kategori. Data tersebut, menurut Asrin, menunjukkan besarnya tantangan dalam penanggulangan bencana, termasuk ancaman kekeringan yang kini dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banggai Kepulauan.

Ia berharap hasil asesmen BPBD dapat menjadi dasar pertimbangan pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan penanganan kekeringan dan krisis air bersih.

“Kami berharap hasil pemaparan dan kajian yang telah disampaikan nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan dan upaya mitigasi yang tepat bagi masyarakat yang terdampak,” kata Asrin.

Asrin juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Banggai Kepulauan beserta unsur Forkopimda atas perhatian dan dukungan terhadap kondisi kekeringan di sejumlah wilayah.

Menurut dia, dukungan pemerintah daerah penting untuk memastikan masyarakat terdampak memperoleh penanganan secara cepat dan tepat, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

“Atas nama BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati atas kesempatan, waktu, perhatian, dan arahan yang telah diberikan terkait kondisi kekeringan di Kecamatan Bulagi, Bulagi Selatan, dan Bulagi Utara,” ujarnya.

Ia menegaskan BPBD akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan penanganan dilakukan berdasarkan kondisi faktual di lapangan.

“Perhatian, dukungan, dan arahan dari Bapak Bupati serta unsur Forkopimda sangat berarti dalam upaya penanganan kondisi ini,” kata Asrin.

Menutup sambutannya, Rusli mengajak seluruh pihak menjadikan rapat koordinasi tersebut sebagai momentum memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla, kekeringan, dan krisis air bersih.

“Dengan koordinasi yang baik, kerja sama yang kuat, dan kepedulian seluruh masyarakat, saya yakin kita dapat meminimalkan risiko dan dampak yang mungkin terjadi,” ujarnya. (Roy-KOMINFO)